Anda Pengunjung Ke :

Tampilkan postingan dengan label Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Story. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 Desember 2011

Butterfly of happiness



Suatu hari, terdapat seorang pemuda di tepian telaga. Ia tampak termenung. Tatapan matanya kosong, menatap hamparan air di depannya. Seluruh penjuru mata angin telah di lewatinya, namun tak ada satupun titik yang membuatnya
puas. Kekosongan makin senyap, sampai ada suara yang menyapanya. Ada orang lain disana. 


"Sedang apa kau disini anak muda?" tanya seseorang. Rupanya ada seorang kakek tua. "Apa yang kau risaukan..?"
Anak muda itu menoleh ke samping, "Aku lelah PakTua. Telah berkilo-kilo jarak yang
kutempuh untuk mencari kebahagiaan, namun tak juga kutemukan rasa itu dalam diriku. Aku telah berlari melewati gunung dan lembah, tapi tak ada tanda kebahagiaan yang hadir dalam diriku. Kemana kah aku harus mencarinya? Bilakah
kutemukan rasa itu?"

Kakek Tua duduk semakin dekat, mendengarkan dengan penuh perhatian. Di pandangnya wajah lelah di depannya. Lalu, ia mulai bicara, "di depan sana, ada sebuah taman. Jika kamu ingin jawaban dari pertanyaanmu, tangkaplah seekor kupu-kupu buatku." Mereka berpandangan. "Ya...tangkaplah seekor kupu-kupu buatku dengan
tanganmu" sang Kakek mengulang kalimatnya lagi.


Perlahan pemuda itu bangkit. Langkahnya menuju satu arah, taman. Tak berapa lama, dijumpainya taman itu. Taman yang yang semarak dengan pohon dan bunga-bunga yang bermekaran. Tak heran, banyak kupu-kupu yang berterbangan disana. Sang kakek, melihat dari kejauhan, memperhatikan tingkah yang diperbuat pemuda yang sedang gelisah itu.

Anak muda itu mulai bergerak. Dengan mengendap-endap, ditujunya sebuah sasaran. Perlahan, Namun, Hap! sasaran itu luput. Di kejarnya kupu- kupu itu ke arah lain. Ia tak mau kehilangan buruan. Namun lagi-lagi. Hap!. Ia gagal. Ia mulai berlari tak beraturan. Diterjangnya sana-sini. Ditabraknya rerumputan dan tanaman untuk mendapatkan kupu-kupu itu. Diterobosnya semak dan perdu di sana. Gerakannya semakin liar.

Adegan itu terus berlangsung, namun belum ada satu kupu-kupu yang dapat ditangkap. Sang pemuda mulai kelelahan. Nafasnya memburu, dadanya bergerak naik-turun dengan cepat. Sampai akhirnya ada teriakan, "Hentikan dulu anak muda. Istirahatlah."
Tampak sang Kakek yang berjalan perlahan. Tapi lihatlah, ada sekumpulan kupu-kupu yang berterbangan di sisi kanan-kiri kakek itu.
Mereka terbang berkeliling, sesekali hinggap di tubuh tua itu. "Begitukah caramu mengejar kebahagiaan? Berlari dan menerjang? Menabrak-nabrak tak tentu arah, menerobos tanpa peduli apa yang kau rusak?" Sang Kakek menatap pemuda itu. "Nak, mencari kebahagiaan itu seperti menangkap kupu-kupu. Semakin kau terjang, semakin ia akan menghindar. Semakin kau buru, semakin pula ia pergi dari dirimu."

"Namun, tangkaplah kupu-kupu itu dalam hatimu. karena kebahagiaan itu bukan benda yang dapat kau genggam, atau sesuatu yang dapat kau simpan. Carilah kebahagiaan itu dalam hatimu. Telusuri rasa itu dalam kalbumu. Ia tak akan lari kemana-mana. Bahkan, tanpa kau sadari kebahagiaan itu sering datang sendiri."

Kakek Tua itu mengangkat tangannya. Hap, tiba- tiba, tampak seekor kupu-kupu yang hinggap di ujung jari. Terlihat kepak-kepak sayap kupu-kupu itu, memancarkan keindahan ciptaan Tuhan. Pesonanya begitu mengagumkan, kelopak sayap yang mengalun perlahan, layaknya kebahagiaan yang hadir dalam hati. Warnanya begitu indah, seindah kebahagiaan bagi mereka yang mampu
menyelaminya.

Mencari kebahagiaan adalah layaknya menangkap kupu-kupu. Sulit, bagi mereka yang terlalu bernafsu, namun mudah, bagi mereka yang tahu apa yang mereka cari. Kita mungkin dapat mencarinya dengan menerjang sana-sini, menabrak sana-sini, atau menerobos
sana-sini untuk mendapatkannya. Kita dapat saja mengejarnya dengan berlari kencang, ke seluruh penjuru arah. Kita pun dapat meraihnya dengan bernafsu, seperti menangkap buruan yang dapat kita santap setelah mendapatkannya.

Namun kita belajar. Kita belajar bahwa kebahagiaan tak bisa di dapat dengan cara-cara seperti itu. Kita belajar bahwa bahagia bukanlah sesuatu yang dapat di genggam atau benda yang dapat disimpan. Bahagia adalah udara, dan kebahagiaan adalah
aroma dari udara itu. Kita belajar bahwa bahagia itu memang ada dalam hati. Semakin kita mengejarnya, semakin pula kebahagiaan itu akan pergi dari kita. Semakin kita berusaha meraihnya, semakin pula kebahagiaan itu akan menjauh. Cobalah temukan kebahagiaan itu dalam hatimu. Biarkanlah rasa itu menetap, dan abadi dalam hati kita. Temukanlah kebahagiaan itu dalam setiap langkah yang kita lakukan. Dalam bekerja, dalam belajar, dalam menjalani hidup kita. Dalam sedih, dalam gembira, dalam sunyi dan dalam riuh. Temukanlah bahagia itu, dengan perlahan, dalam tenang, dalam ketulusan hati kita.

Saya percaya, bahagia itu ada dimana-mana. Rasa itu ada di sekitar kita. Bahkan mungkin, bahagia itu "hinggap" di hati kita, namun kita tak pernah memperdulikannya. Mungkin juga, bahagia itu berterbangan di sekeliling kita, namun kita terlalu acuh untuk menikmatinya.

Nice Story : Keindahan Hati

John Blanford berdiri tegak dari bangku di Stasiun Kereta Api sambil melihat ke arah jarum jam, pukul 6 kurang 6 menit. John sedang menunggu seorang gadis yang dekat dalam hatinya tetapi tidak mengenal wajahnya, seorang gadis dengan setangkai mawar. Lebih dari setahun yang lalu John membaca buku yang dipinjam dari Perpustakaan. Rasa ingin tahunya terpancing saat ia melihat
coretan tangan yang halus di buku tersebut. Pemilik terdahulu buku tersebut adalah seorang gadis bernama Hollis Molleon. Hollis tinggal di New York dan John di Florida. John mencoba menghubungi sang gadis dan mengajaknya untuk
saling bersurat. Beberapa hari kemudian, John dikirim ke medan perang, Perang Dunia II. Mereka terus saling menyurati selama hampir 1 tahun. Setiap surat seperti layaknya bibit yang jatuh di tanah yang subur dalam hati masing-masing dan jalinan cinta merekapun
tumbuh.

John berkali-kali meminta agar Hollis mengirimkannya sebuah foto. Tetapi sang gadis selalu menolak, kata sang gadis "Kalau perasaan cintamu tulus,John, bagaimanapun rupaku tidak akan berubah perasaan itu, kalau saya cantik, selama hidup saya akan bertanya-tanya apakah mungkin perasaanmu itu hanya karena saya cantik saja, kalau saya biasa-biasa atau cenderung jelek, saya takut kamu akan terus menulis hanya karena kesepian dan tidak ada orang lain lagi dimana kamu bisa mengadu. Jadi sebaiknya kamu tidak usah tahu
bagaimana rupa saya. Sekembalinya kamu ke New York nanti kita akan bertemu muka. Pada saat itu kita akan bebas untuk menentukan apa yang akan kita lakukan."

Mereka berdua membuat janji untuk bertemu di Stasiun Pusat di New York pukul 6 sore setelah perang usai. "Kamu akan mengenali saya, John, karena saya akan menyematkan setangkai bunga mawar merah pada kerah bajuku", kata nona Hollis. Pukul 6 kurang 1 menit sang perwira muda semakin gelisah, tiba-tiba jantungnya hampir copot, dilihatnya seorang gadis yang sangat cantik berbaju
hijau lewat di depannya, tubuhnya ramping, rambutnya pirang bergelombang, matanya biru seperti langit, luar biasa cantiknya....

Sang perwira mulai menyusul sang gadis, dia bahkan tidak menghiraukan kenyataan bahwa sang gadis tidak mengenakan bunga mawar seperti yang telah disepakati. Hanya tinggal 1 langkah lagi kemudian John melihat seorang wanita berusia 40 tahun mengenakan sekumtum mawar merah di kerahnya.

"O....itu Hollis!!!!" Rambutnya sudah mulai beruban dan agak gemuk. Gadis berbaju hijau hampir menghilang. Perasaan sang perwira mulai terasa terbagi 2 ingin lari mengejar sang gadis cantik tetapi pada sisi lain tidak ingin menghianati Hollis yang lembut dan telah setia menemaninya lewat tulisan2nya selama perang. Tanpa berpikir panjang, John berjalan menghampiri wanita yang berusia setengah baya itu dan menyapanya, "Nama saya John Blanford, anda tentu saja Nona Hollis, bahagia sekali bisa bertemu dengan anda, maukah anda makan malam bersama saya?" Sang wanita tersenyum ramah dan berkata "Anak muda, saya tidak tahu apa artinya semua ini, tetapi seorang gadis yang berbaju hijau yang baru saja lewat memaksa saya untuk mengenakan bunga mawar ini dan dia mengatakan kalau anda mengajak saya makan maka saya diminta untuk memberitahu anda bahwa dia menunggu anda di restoran di ujung jalan
ini, katanya semua ini hanya ingin menguji anda." (NN)

::
Pernahkah terpikir oleh anda sekalian, bahwa si pemuda bernama John Blanford di atas akan menarik semua perkataan-perkataan cinta romantis yang pernah di tulis dalam surat-suratnya apabila, katakanlah memang benar ternyata Nona Hollis hanyalah seorang wanita gemuk dengan rambut hamper beruban. Untunglah John seorang yang sangat cerdas dan berhikmat. Dia bisa saja berpikir pasti
dapat mengeluarkan sebuah alasan lain untuk mengagalkan lamarannya. Dan tentunya jika itu terjadi, maka cerita ini pasti tidak akan ada. Seseorang akan sangat mudah tertipu dan tergoda untuk mengikuti mata jasmani dan mengabaikan kata hati. Orang lebih menyukai apa yang dapat dia lihat dan sentuh dari pada apa yang dapat dirasakan dan di sentuh oleh hatinya.



Ini adalah salah satu titik kegagalan manusia dalam menjalani kehidupannya sebagai orang yang beriman. Kita lebih tertarik melihat sebuah senyuman manis, dari pada sikap hati. Kita lebih menyukai bola mata yang bulat dan bening ketimbang mata hati yang tajam dan peka. Kita lebih menyukai wajah rupawan dari pada karakter yang bagus. Singkat kata, kita semua lebih menyukai hal-hal yang bersifat jasmaniah ketimbang hal-hal rohaniah. Itulah sebabnya seringkali kita tersandung karena ulah kita sendiri! Keindahan sejati adalah keindahan hati............

Cinta sejati adalah dimana org itu bs mencintai dan menerima kita apa adanya dgn sgla kekurangan dan kelebihan kita...kekuranganmu adalah kelebihanku...nice word ya....

Happy Day

Sabtu, 17 Desember 2011

Anugerah yang terindah

Penumpang sebuah bis melihat dengan simpati ketika seorang wanita muda yang cantik, yang membawa tongkat putih, dengan hati-hati naik ke bis. Ia membayar pada sopir, kemudian meraba-raba mencari tempat duduk kosong yang diberitahukan oleh sopir. Ia duduk, tasnya ditaruh di pangkuannya dan tongkatnya di antara kedua kakinya.
Telah setahun Susan, 34, buta. Karena salah pengobatan ia tidak dapat melihat lagi dan masuk ke dunia yang gelap, hatinya penuh penyesalan dan rasa frustasi. Ia yang tadinya seorang wanita bebas, sekarang tak berdaya dan merasa menjadi beban bagi orang di sekitarnya. “Bagaimana semuanya ini bisa terjadi padaku?” ia mengadu, hatinya diliputi kemarahan.

Tetapi betapapun ia menangis dan berdoa, ia harus menerima kenyataan bahwa penglihatannya tak akan kembali. Ia harus bergantung pada suaminya, Mark. Mark adalah seorang perwira Angkatan Udara dan mencintai Susan dengan sepenuh hati.
Akhirnya, Susan merasa siap untuk kembali bekerja, tetapi bagaimana ia harus pergi bekerja? Ia biasa naik bis, tetapi sekarang ia takut berkeliling kota sendirian. Mark terpaksa mengantar dan menjemputnya dengan mobil setiap hari sekalipun kantor mereka berjauhan dan berada pada arah yang berbeda. Pada awalnya, ini menolong Susan dan memenuhi keinginan Mark untuk melindungi isterinya yang merasa tidak aman untuk melakukan apa saja. Namun lambat laun, Mark merasa ini merepotkan dan cukup memakan biaya. Susan harus bisa pergi sendiri. Tetapi bagaimana mengatakannya? Susan yang demikian rapuh tentu akan marah.


Dan seperti yang telah diduganya, Susan keberatan untuk pergi naik bis sendirian. “Saya buta!”, kata Susan dengan keras. “Bagaimana kamu tega membiarkan saya pergi sendiri? Saya merasa kamu tidak menghiraukan saya lagi.” Hati Mark merasa pedih oleh kata-kata Susan itu, tetapi ia tahu apa yang harus dilakukannya. Ia berjanji akan mengantar Susan setiap pagi dan sore naik bis sampai ia terbiasa. Dua minggu penuh, Mark, yang mengenakan seragam militer, mengantar dan menjemput Susan bekerja. Ia mengajarkannya untuk menggunakan indera lainnya, terutama pendengaran, untuk mengenali dimana dia berada dan bagaimana menyesuaikan dirinya dengan lingkungannya yang baru. Setiap pagi mereka berangkat bersama dengan bis dan Mark kembali ke kantornya dengan taksi. Sekalipun cara ini lebih merepotkan dan lebih memakan biaya, tetapi hanya soal waktu hingga Susan bisa pergi dengan bis sendiri. Akhirnya Susan memutuskan bahwa ia sudah siap untuk pergi sendiri.
Senin pagi, sebelum pergi, Susan merangkul dan mengecup Mark, kawan sementaranya di bis, suaminya, dan temannya yang terbaik. Matanya dibasahi air mata menandai rasa terimakasih atas kesetiaannya, kesabarannya, dan cintanya. Untuk pertama kali mereka pergi sendiri-sendiri. Senin, Selasa, Rabu, Kamis … setiap hari semuanya berjalan lancar, dan Susan tak pernah merasa lebih baik dari itu. Ia mampu melakukan itu! Ia dapat pergi bekerja sendiri!
Pada Jum’at pagi, Susan pergi bekerja dengan bis seperti biasa. Ketika ia akan turun dari bis, sopir bis itu berkata, “Nyonya, Anda sungguh harus bersyukur.” Susan tidak yakin apakah sopir bis itu berbicara pada dirinya. Mengapa ia seorang buta yang harus bersusah payah mencari keberanian untuk menjalani hidup harus bersyukur? Dengan rasa ingin tahu ia bertanya pada sopir itu, “Mengapa aku harus bersyukur?” Sopir itu mengatakan, “Anda tahu, setiap pagi pada minggu ini, seorang yang tampan mengenakan seragam militer berdiri di ujung jalan mengawasi Anda ketika turun dari bis. Ia ingin yakin bahwa Anda dapat menyeberang dengan aman dan mengawasi Anda sampai Anda masuk ke gedung perkantoran Anda. Ia melayangkan sebuah kecupan bagi Anda dan memberikan sedikit salam militer sebelum ia pergi. Anda sungguh wanita yang berbahagia.”
Air mata kebahagiaan mengalir di pipi Susan. Sekalipun ia tidak melihatnya, ia dapat merasakan kehadiran Mark. Ia merasa beruntung karena Tuhan telah menganugerahkan padanya sesuatu yang lebih daripada penglihatan – ia tak perlu melihat untuk percaya – bahwa cinta dapat memberikan terang dimana ada kegelapan.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | GreenGeeks Review